Kamis, 29 September 2011

Fulus Empuk dari Pembuatan Busa Helm

Jumlah pengendara motor yang terus meningkat, turut mendongkrak usaha busa helm. Pembuatan busa yang biasanya dipakai sebagai pelapis bagian dalam helm ini bisa mendatangkan uang hingga ratusan juta. Tak hanya memasok pabrik helm di dalam pegeri, busa helm buatan lokal ini telah dipakai oleh pabrik-pabrik helm yang ada di negara-negara TimurTengah.

Sebagai salah satu pengaman, helni wajib dikenakan oleh pengendara motor. Alhasil, penjualan helm terus mengekor jumlah sepeda motor yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak hanya meramaikan gerai penjualan helm, kenaikan permintaan helm juga menguntungkan produsen busa pelapis helm.

Tengok saja usaha Andi Primadi. Pemilik PT Sukses Gemilang ini bisa menuai 180.000 pesanan busa pelapis helm per bulan. Dengan pesanan sebanyak itu. Andrimengaku bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 200 juta sebulan. "Kalau lagi sepi, omzet berkisar Rp 80 juta lungga Rp 120juta," ujarnya.

Dari omzet itu, Andri mendapatkan keuntungan sebanyak 20%. Ia menjual busa pelapis helm dengan harga Rp 2.000 per set untuk helm standar SNI dan Rp 5.200 per set untuk helm premium.

Awalnya, Andri tak menyangka bisa meraih kesuksesan dari bisnis ini. Tak sengaja, pengusaha garmen ini mendapat tawaran untuk menjahit busa dari kliennya Nyatanya, permintaan ini selalu rutin diterima dan mendatangkan banyak fulus. Ia pun mengubah halauan menjadi produsen pelapis helm sejak 2009.

Kini, Andri telah memiliki 150 karyawan. Ia memasok tujuh pabrik helm di Tangerang, Bekasi dan Surabaya. Selain memenuhi pesanan pabrik helm lokal, Andri juga mengirimkan rakitan pelapis helm ini ke luar negeri, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. "Untuk ekspor saya dapat order dari pihak kedua," tandasnya.

Tak buruh waktu lama untuk membuat dalaman helm. Dalam sehari, Andri bisa menghasilkan 3.000 set dalaman helm. Jika pesanan membanjir, ia meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat produksi tersebut dapat ditingkatkan menjadi dua kalilipatnya dengan memberlakukan dua kali pergantian jam kerja atau shift.

Selain Andri, pembuatan busa helm juga digeluti oleh Muhammad Ardiansyah. Pria yang membuka usahanya di Mojokerto, Jawa Timur terjun ke usaha ini sejak tahun 2000. Ardi, panggilan akrab Muhammad Ardiansyah ini merupakan generasi kedua perajin busa helm. Orang tuanya telah merintis usaha ini pada 1990-an.

Ardi bilang, usaha pembuatan busa helm ini masih sedikit pemainnya. "Padahal, kebutuhan lapisan dalam pelindung kepala ini terus meningkat," ujarnya

Hanya, berbeda dengan produsen busa helm lainnya, Ardi tak mengirim busa helm ke produsen helm. Ia justru membuat busa tersebut untuk kebutuhan reparasi helm yang rusak. "Karena tingkat kerusakan helm, kebanyakan pada lapisan dalam, yakni busa yang terlepas dari kainnya," tutur pria 27 tahun ini.

Meski hanya memenuhi permintaan reparasi, Ardimemproduksi busa helm untuk semuajenis dan merek helm. Ia pun bisa menjual busa pelapis ini dengan harga tinggi, yakni Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per set, tergantung jenis helm serta ketebalan busa yang diinginkan. "Biasanya ketebalan busa antara 5-8 cm," ujar Ardi yang dibantu tiga pekerja.

Permintaan reparasi busa helm ini pun cukup besar. Dalam sebulan, ia menerima 500 perbaikan helm. Bahkan, mendekati momen tertentu, seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, permintaan bisa berlipat. Terkadang bisa mencapai 1000 permintaan dalam sebulan," tandasnya.

Tak heran, dalam sebulan, Ardi bisa meraup omzet sekitar Rp 20 juta-Rp 25 juta per bulannya Ia pun bisa memperoleh margin keuntungan cukup tinggi, hingga 40%.

Maklum, helm yang dikirimkan untuk perbaikan, biasanya helm-helin mahal, yang kebanyakan datang dari Jakarta dan Jawa Timur. Ardi banyak memperoleh pelanggan yang setia mengganti busa helm padanya, karena ia aktif menawarkan jasanya ini melalui berbagai gerai-gerai online di internet.