Kamis, 29 September 2011

Kranji Juara 3 Desa Unggulan Jatim

Desa Kranji Kecamatan Paciran akhirnya sukses ditetapkan sebagai juara ketiga Lomba Desa dan Kelurahan tingkat Provinsi Jawa Timur. Ketua Tim Pengerak PKK (TPPKK) Mahdumah Fadeli, Senin (25/9) mewakili Pemkab Lamongan menerima piagam dan hadiah dari Ketua TPPKK Jatim Nina Soekarwo di Aula Inna Simpang Hotel, Surabaya.

Selain penghargaan, Nina Soekarwo di kesempatan itu juga menyerahkan bantuan dana hibah program kegiatan untuk TPPKK kabupaten kota pemenang. Juara pertama diraih Kabupaten Pacitan, selanjutnya bantuan sebesar Rp 50 juta diberikan kepada Kab Malang Juara Kedua dan Lamongan sebagai juara ketiga menerima dana hibah sebesar Rp 45 juta. Kemudian Kota Malang sebagai pemenang pertama tingkat Kelurahan mendapat Rp 37,5 juta, Juara Kedua Kota Madiun mendapat dana Rp 35 juta dan pemenang ketiga yang diraih Kota Kediri mendapat bantuan dana Rp 32,5 juta.

Penerima pemenang lomba desa dan kelurahan itu diberikan melalui PKK karena PKK berperan besar pada semua bidang lomba yang meliputi program Keluarga Berencana (KB) dalam rangka penurunan angka kelahiran. Kemudian Program Posyandu, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Mahdumah Fadeli di kesempatan terpisah merasa bersyukur akhirnya Lamongan yang diwakili Desa Kranji sukses menjadi juara tiga. Dikatakan olehnya, prestasi Desa Kranji tersebut mewakili seluruh desa yang di Lamongan. Dia berharap semoga prestasi yang diraih itu bisa kembali ditingkatkan.

Sebelumnya, Lamongan sukses masuk 4 esar desa unggulan di Jatim. Untuk bisa masuk 4 besar tersebut, ada delapan indikator unggulan yang harus dipenuhi. Yakni meliputi bidang pendidikan, kesehatan, pemerintahan desa, keamanan dan ketertiban, patisipasi masyarakat, ekonomi, kelembagaan dan PKK.

Desa Kranji diunggulkan karena potensinya yang besar dan juga telah menorehkan banyak prestasi disegala bidang. Diantaranya adalah bidang ekonomi dan pertanian. Tempat pelelangan ikan (TPI) Desa Kranji mampu memproduksi sekitar 65.000 ton pertahun ikan tangkap. Selain itu, Rp 66 juta pertahun potensi wisata yang dikelola desa juga memberikan kontribusi yang tidak kecil.