Kamis, 29 September 2011

Teluk Bintuni Belajar Pengelolaan Pelabuhan

Anggota DPRD Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat yang dipimpin Robert Manibuy, Rabu (21/9) melakukan kunjungan kerja di Lamongan. Kunjungan kerja yang diterima Asisten Ekonomi Pembangunan Djoko Purwanto di Ruang Sasana Nayaka tersebut terkait pengelolaan pelabuhan.

Disebutkan oleh Robert, Teluk Bintuni yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Manokwari sekitar delapan tahun lalu tersebut memiliki pontensi sumber daya alam yang luar biasa. Terutama dengan keberadaan LNG Tangguh yang cadangan gasnya mencapai 13,7 triliun kaki kubik. Sebagai kabupaten baru, lanjut dia, Teluk Bintuni saat ini sedang menata pemerintahan dan infrastruktur.

“Kunjungan kami ini sebagai upaya kami untuk berfikir kedepan dengan potensi Teluk Bintuni suatu saat akan menjadi daerah industri baru. dan mungkin akan melebihi Freeport. Cadangan gas di Teluk Bintuni adalah yang terbesar kedua setelah di Natuna. Karena itu kami hari ini mencoba belajar pengalaman dari Lamongan terkait pengelolaan pelabuhan, “ ujar dia. Di Bintuni sendiri saat ini terdapat 11 pelabuhan dengan dua pelabuhan cukup besar yang dilalui kapal-kapal dari wilayah barat Indonesia.

Robert juga menyebutkan di Teluk Bintuni yang mempunyai 24 distrik (kecamatan) tersebut ada Kerukunan Keluarga Lamongan (KKL) yang anggotanya cukup banyak. Mereka selama ini sangat membantu dalam proses percepatan di Teluk Bintuni. “Keberadaan KKL ini bentuk persaudaraan dan bukti bahwa Papua adalah Nusantara, “ kata dia.

Sementara Djoko Purwanto dalam penjelasannya meyampaikan pelabuhan penyeberangan ASDP atau Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan di Kecamatan Paciran nantionya akan menggantikan pelabuhan di Surabaya. Pembangunan ADP yang sudah dimulai sejak 2005 itu menelan anggaran hingga Rp 103 miliar itu direncakan mulai beroperasi pada tahun 2013. “Meski saat ini pembanguna fisik masih dalam tahap perampungan, regulasinya sudah kami siapkan, “ ungkap dia.

Dijelasknannya, karakteristik jenis kapal yang akan beroperasi ASDP di Paciran adalah kapal jenis Roll On/Roll Off atau Kapal RO-RO. Yakni sejenis feri yang bisa membawa kargo beroda. Sementara GRT (Gross Registered Tonnage) kapal yang bisa bersandar disana antara 200-500 GRT. Di lokasi ASDP juga akan dibangun terminal terpadu yang melayani trayek antar kota dan antar provinsi seperti rute Mojkerto dan Semarang.

Pembangunan ASDP di Lamongan karena adanya demand angkutan antar pulau di Jatim. Selain melayani rute Lamongan-pulau Bawean, ASDP Paciran nantinya juga akan melayani rute Lamongan-Balikpapan, Banjarmasin, Makassar dan Kupang. Sedangkan rute Galongkong dan Pulang Pisau masih dalam tahap usulan.