Selasa, 04 Oktober 2011

Arvin Miracelova, Mendidik Anak Lewat Tayangan Televisi


PDF Cetak E-mail
Selasa, 04 Oktober 2011 12:00
Saat ini, ilmu yang didapat oleh anak-anak tidak selalu hadir dari sekolah yang memberikan pendidikan yang formal. Seringkali bahkan, televisi dan film yang ditonton oleh anak-anak, bisa memberikan pengaruh yang sangat hebat pada moral dan cara pandang sang anak. Untuk itu, sangat penting hadirnya sebuah tayangan yang mendidik yang sesuai dengan usia sang anak. Hal itu pun sangat disadari oleh Arvin Miracelova, saat ia memutuskan untuk menjalankan sebuah proyek televisi dengan konten edukatif.

Arvin-MiracelovaArvin Miracelova adalah pendiri Student Music Television (SMTV) dan Talent On Screen (TOS) Academy. Melalui usaha yang berdiri pada 2007 itu, lelaki yang kini berusia 36 tahun ini mampu memproduksi beragam acara, lebih dari 2000 jam tayang, yang ditayangkan di 30 televisi lokal. Proyek-proyek yang telah dijalankan seperti ekspedisi klip, video klip, drama musikal, yang telah bekerjasama dengan lebih dari 100 sekolah di seluruh Indonesia.

Sebagai orang yang bekerja sebuah Production House, Arvin mengaku gelisah melihat program-program tayangan anak-anak yang biasa ditonton di televisi saat ini. Banyaknya tayangan yang mengobral kekerasan di televisi, membuat Arvin bertekad untuk meracik sebuah program yang tak hanya mendidik tapi juga sesuai dengan minat dari si anak.

“Bisnis ini lahir dari kemarahan saya melihat tontonan anak-anak di televisi, khususnya waktu itu anak saya, yang seringkali menonjolkan faktor kekerasan dan hal lain yang tidak mendidik. Karena saya memang bekerja di sebuah PH (Production House), jadi saya pikir kenapa saya tidak membuat saja sebuah tontonan yang bisa mendidik anak-anak memalui sebuah program tayangan televisi yang jauh dari unsur kekerasan dan sarat akan sisi edukatif,” ujar Arvin kepada CiputraEntrepreneurship.com, saat ditemui di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Dengan mengedepankan content tayangan yang mengedepankan sisi pendidikan dan music, Arvin memulai usahanya dengan memperkuat jaringan (networking) khususnya dalam bentuk komunitas, atau community base. Dengan demikian, SMTV pun kini telah berkembang menjadi SMTV networks yang telah bekerjasama dengan puluhan TV lokal di seluruh Indonesia.

Dalam menjalankan bisnisnya Arvin mengusung tiga konsep yang disebutnya sebagai golden triangle; dimana di satu sisi itu ada komunitas pelajar (edukasi), lalu komunitas musik melalui program CSRnya si artis, lalu satu sisi lagi adalah content yang berisi nation building (pariwisata, budaya). Golden triangle ini akan selalu menjadi roh dari tayangan yang dia buat. Arvin berprinsip, setiap tayangan dia buat tidak sekadar hiburan tetapi juga bermanfaat. Konsep ideal Arvin inilah yang kemudian menarik perhatian para pemilik televisi-televisi lokal Karena respon yang besar dari masyarakat, SMTV pun coba menggarap sektor pendidikan yang fokusnya pada pendidikan di dunia broadcastingtelevisi dan film, khusus untuk kids and teens.

“Sebenarnya di luar negeri sudah banyak lembaga pendidikan seperti ini. Tujuan utama adanya sekolah ini seberanya bukan untuk mendidik anak-anak untuk terjun ke dunia televisi atau film. Kami ingin agar siswa didik kami bisa mengembangan sisi kreatif mereka, untuk nantinya mereka bisa lebih inovatif dalam berfikir dan lebih lepas dalam mengekspresikan bakat mereka,”

Sejauh ini akademi Talent On Screen (TOS) ditampuk menjadi sebuah bisnis pendidikan. Langkah yang kami jalankan pun sudah dimulai dengan sering mendatangkan siswa-siswa dari luar negeri untuk sama-sama mengerjakan proyek, yang nanti hasilnya akan ditawarkan ke luar negeri. Hasilnya, Arvin pun berhasil Penghargaan terakhir yang diperolehnya adalah International Young Creative Entrepreneur (IYCE) British Council Award 2011 untuk International Screen Category.

Untuk mengembangkan bisnis pendidikannya, Arvin berharap bisa menjadikan akademi TOS sebagai network untuk membangun talenta-talenta muda dari sabang sampai marauke. Dengan demikian akademi TOS yang ditunjang oleh jaringan SMTV bisa menjadi pusat pertukaran konten tayangan yang mendidik bagi kalangan anak-anak di Indonesia.

“Misalnya ada sebuah paket tayangan wisata yang dibuat oleh anak-anak di Aceh, untuk ditayangkan di Bali, kami bisa menjadi jembatan untuk itu. Sebaliknya, anak-anak Bali pun bisa memproduksi sebuah tayangan yang bisa ditonton di mana saja, dengan SMTV sebagai jembatannya. Selain itu, SMTV juga bisa menjadi pusat dari quality control sebuah tayangan yang memang layak tayang, untuk disebarkan ke seluruh daerah di Indonesia, bahkan jika benar-benar bagus, nanti akan kami sertakan ke luar negeri sebagai sebuah paket yang layak jual,” jelas Arvin.

Untuk memperluas jaringannya, Arvinpun membuka kerjasama dengan calon mitra yang terpanggil untuk menggeluti bisnis pendidikan ini. Dengan tujuan untuk membangun sebuah komunitas belajar, mitra akan ditawarkan untuk memilih antara dua paket kerjasama. Untuk pendidikan anak-anak, biaya investasinya sebesar Rp. 150 sampai Rp. 250 juta. Sedangkan untuk pendidikan anak-anak hingga remaja, biaya investasinya sebesar Rp. 300 hingga Rp. 500 juta. Biaya tersebut nantinya akan dipakai untuk biaya pembuatan replika stasiun TV, lengkap dengan peralatannya. Nantinya, selain untuk produksi, studio ini bisa disewakan kepada sekolah-sekolah yang memiliki ekskul fotografi atau videografi. (*/ Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/teknologi-informasi/11685-arvin-miracelova-mendidik-anak-anak-lewat-tayangan-televisi.html