Minggu, 02 Oktober 2011

Ayam arab, mini telurnnya tapi besar pasarnya

Ayam arab merupakan jenis ayam petelur yang sering disebut dengan istilah brakel kriel-silver. Ayam ini mudah dikenali dari warna bulu pada leher yang putih mengkilap, sedangkan bulu punggung berwarna putih dengan bintik hitam. Jika melihat sepintas, kombinasi warna bulu dari ayam arab mirip dengan kalkun.

Di Indonesia, banyak orang yang sudah membudidayakan ayam arab. Salah satunya karena, "Pembudidayaan dan penjualannya relatif lebih mudah," kata Imam Kambali, peternak ayam arab asal Blitar, Jawa Timur yang sudah tiga tahun membudidayakan ayam arab.

Perawatan dan pembudidayaan ayam arab pada dasarnya sama dengan ayam ras jenis lain. Ayam arab hanya butuh diberi makan sekali sehari. Yang penting, kandangnya harus bersih. sebab ayam ini riskan terhadap serangan penyakit serta virus.

Namun, yang paling penting harga telurnya lebih tinggi dibanding telur jenis lain dan pangsa pasarnya terbuka lebar. Pasar yang besar ini pula yang membuat Budi Miharso, pemilik Trias Farm di Bogor, tertarik menggeluti bisnis ini. Menurut Budi yang sudah 10 tahun ini berbisnis ayam arab, banyak orang menggunakan telur ayam untuk campuran jamu. Telur ayam arab dianggap punya khasiat tinggi dalam penyembuhan penyakit.

Selain itu, konsumen telur ayam arab juga datang dari pabrik roti, serta swalayan. Pabrik roti suka dengan telur ayam arab karena memiliki kuning telur yang lebih besar ketimbang ayam biasa. "Pengepul biasanya ambil langsung ke saya untuk ke produsen roti," ujar Budi.

Beda telur ayam arab dengan ras lain terletak pada cangkang telur. Jika ayam arab berwarna putih susu, telur ayam ras biasa lebih kecoklat-coklatan. Berat berat telur ayam arab lebih ringan yakni hanya 38 gram - 50 gram, sedangkan telur ayam biasa bisa mencapai 48 gram - 60 gram. Meski ukurannya lebih kecil dan beratnya lebih ringan dibanding telur jenis lain, kuning telur ayam arab lebih besar.

Dengan ukuran yang kuning yang lebih besar, kandungan protein telur ayam arab juga lebih tinggi. "Protein telur ayam arab mencapai 20% lebih banyak dari ayam biasa plus kandungan betakarotin yang tinggi," ujar Imam.

Dengan keunggulan tersebut, telur ayam arab memiliki prospek pasar yang bagus. Harga pasaran telur ayam arab Rp 700-Rp 800 per butir di tingkat pengepul di daerah Blitar. Sedangkan Budi menjual telur ayam arab dengan harga lebih mahal, yakni Rp 1.200 - Rp 1.300 per butir.

Dengan harga jual yang tinggi, Imam mampu mengantongi omzet sekitar Rp 4 juta - Rp 8 juta per hari. Adapun Budi bisa mengantongi omzet hingga Rp 9 juta- Rp 10 juta per hari. "Sebanyak 80% untuk memenuhi pasokan ke pasar tradisional dan swalayan," kata Budi.

Besarnya omzet yang mereka dapatkan produksi telur ayam arab mereka juga besar. Imam misalnya, mampu mengumpulkan 5.000 sampai 10.000 butir telur dari 10.000 ekor ayam per hari. Adapun Budi bisa memperoleh 8.000 - 9.000 butir telur dari 15.000 ekor ayam sehari. Meski nilai ekonomisnya tinggi, kendala budidaya ayam ini adalah tingkat kegagalan bertelur ayam arab yang mencapai 50% dari total populasi ayam.

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1302853815/64985/Ayam-arab-mini-telurnnya-tapi-besar-pasarnya-1