Selasa, 04 Oktober 2011

INSPIRASI EKO KRISYANTO

Peluang Usaha

 
Selasa, 04 Oktober 2011 | 13:25  oleh Hafid Fuad
INSPIRASI EKO KRISYANTO
Eko Krisyanto: Kalau ingin sukses jangan takut memulai (3)

Di usianya yang tergolong muda, Eko Krisyanto sudah memiliki empat lini bisnis dengan omzet miliaran rupiah. Dengan prinsip tak pernah takut untuk memulai usaha, membuat Eko gemar buka usaha baru. Lihat saja, usai sukses berbisnis sumpit, kini ia memiliki bisnis jasa interior, bisnis payet, dan bisnis garmen.

Untuk meraih sukses dalam bisnis, syarat paling penting tentu jangan takut memulainya. Prinsip itu pula yang dipegang Eko Krisyanto pemilik Media JB Chopsticks, produsen sumpit di Bandung, Jawa Barat.

Karena prinsip itu pula, Eko pun tak takut memulai usaha baru. Setelah sukses di dunia sumpit, pada 2009, Eko tak segan membuka bisnis baru yang jauh berbeda dari bisnis sumpit, yakni membuka bisnis jasa desain interior.

Bisnis ini dia beri nama Media Jasa Desain. Bisnis jasa mempercantik ruangan itu terinspirasi dari saudaranya yang berprofesi sebagai desainer.

Cukup hanya dua tahun, bisnis jasa desain interiornya itu berkembang pesat. Hingga kini usaha itu mampu mendulang omzet Rp 1 miliar per bulan dengan laba bersih 10%. "Ini berkat adik saya yang memang spesialis sebagai desainer," terang Eko yang mengaku hanya membantu pemasaran saja.

Sukses membuka usaha jasa desain interior, semangat berbisnis Eko semakin membuncah. Kali ini juga bisnis yang berbeda dengan sumpit atau desain interior. Tepatnya pada Januari 2010, Eko membuka jasa pemasangan payet untuk produk garmen.

Saat memulai usaha ini Eko hanya memasang payet saja. Namun belakangan usaha itu berkembang hingga dia bisa memproduksi payet sendiri. "Tapi saya masih terima jasa pemasangan payet," terang Eko. Nah, agar bisnis pemasangan payet ini lancar, Eko menggandeng mitra usaha dari kelompok perajin payet di Bandung.

Pelanggan payet milik Eko datang dari dalam dan luar negeri, Dari dalam negeri, pesanan payet datang dari Jakarta dan Makassar.

Sementara, dari luar negeri pesanan datang dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Rusia. "Rata-rata pesanan payet 10.000 pieces di setiap kota," terang Eko.

Dalam sebulan, dari bisnis payet itu Eko mendulang omzet Rp 700 juta. Sedangkan laba yang berhasil dibawa pulang Eko, rata-rata sebesar 30% dari omzet.

Belum cukup sampai di situ, awal 2011 lalu, Eko kembali bikin gebrakan baru dengan membuka pabrik garmen. Ia memproduksi produk garmen seperti baju kemeja seragam, kaus, dan juga celana denim atau jins.

Pesanan terbanyak produk garmen miliknya itu adalah celana denim yang dipesan khusus oleh eksportir. "Eksportir itu ekspor ke Italia sebanyak 20.000 pieces," terang Eko yang mengaku dapat omzet Rp 500 juta per bulan dari bisnis garmen tersebut.

Selain melayani eksportir, bisnis garmen itu juga melayani kostum untuk keperluan kampanye politisi. Saat ini Eko sedang mempersiapkan pesanan dari salah satu kandidat calon Gubernur Banten.

Walaupun gemar membuka usaha baru, bukan berarti Eko mengabaikan usahanya yang lama. Di sela kesibukan mengurus bisnis itu, Eko tetap melakukan tugas dan tanggungjawabnya sebagai brand manager pada sebuah pabrik garmen milik perusahaan orang lain.

Memang berat untuk mengatur bisnis sembari bekerja. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Eko. Dia harus pandai-pandai mengatur waktu yang terbatas itu. Apalagi saban hari dia bisa harus mengurus banyak hal, mulai mengurus bisnis sumpit, payet, dan garmen, dia juga bekerja di perusahaan milik orang lain.

Eko juga rutin datang ke Garut untuk melihat produksi sumpit. Selain itu, ia mesti datang ke Bogor guna mencari tambahan pasokan sumpit dari produsen lain.

Di sela kesibukan itu, ia juga menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuanya di Ciganjur. "Di kota-kota itu, saya punya rumah dan ruko sehingga tidak bingung untuk menginap," kata Eko yang ternyata gemar berinvestasi di sektor properti itu.

Agar sukses membuka bisnis baru, Eko bilang, membuka usaha dilakukan setelah melakukan analisis pasar. Proses menganalisis bisa dilakukan dengan pengamatan atau wawancara. "Saya butuh tiga bulan untuk menganalisis pasar," terang Eko.

Dalam menganalisis pasar tersebut mesti diketahui siapa pembeli, pesaing, dan mitra usaha. "Tapi hal terpenting adalah bagaimana kita mencari mitra," kata Eko.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79039/Eko-Krisyanto-Kalau-ingin-sukses-jangan-takut-memulai-3