Sabtu, 01 Oktober 2011

Mengurai Peliknya Penghambat Kemajuan Inovasi Bangsa

Views :248 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 30 September 2011 09:31
SAM_0486CE News, Serpong - Apa syaratnya agar sebuah perusahaan bisa tumbuh hingga ratusan tahun? Menurut Dr. Boenjamin Setiawan, Ph. D. , kita bisa menemukan jawabannya dari sebuah pohon. Sebuah pohon meski usianya sudah tua, ia masih bisa terus bertahan hidup asal ia terus tumbuh. Begitu juga dengan sebuah bisnis jika ingin terus bertahan, ia harus bisa terus tumbuh dengan inovasi-inovasi baru. Yang tak kalah penting juga untuk apa semua usaha untuk tumbuh tersebut ditujukan. Sebuah bisnis yang langgeng mampu memberikan kontribusi pada pemangku kepentingan atau stakeholder, yang meliputi karyawan, pemegang saham, pendiri, masyarakat sekitar. Untuk bisa tumbuh terus, SDM dan IPTEK mutlak diperlukan. “Yang paling penting manusia!” serunya.

Paparan menarik Boenjamin, seorang senior advisor “Stem Cell and Cancer Institute”, ini disampaikan dalam sesi seminar siang “Inovasi: Kunci Keberhasilan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat” di BIC Forum 2011 Kamis kemarin (29/9/2011). Ia juga memaparkan resep jitu dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul: DJITU. Akronim ini ia jabarkan menjadi: Disiplin dan Dedikasi, Jujur dan Jeli, Inovasi dan Insiatif, Tekun, Ulet dan Unggul.

Boenjamin berseloroh saat membahas aspek jujur. “Inilah penyakit utama di Indonesia”, katanya dengan lantang. Di Jepang, kata ilmuwan ini, saat tsunami tidak ada penjarahan yang terjadi karena mereka jujur, mereka menunggu toko-toko membagikan makanannya. Bahkan kultur ini tidak dijumpai di Eropa, seperti Inggris yang baru saja dilanda kerusuhan.

Boenjamin yang terlihat masih enerjik meski usianya sudah senja itu mengatakan innovation index kita turun terus dan perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Korea dan Taiwan perlu kita amati. Setelah merdeka mereka memiliki master plan pembangunan yang secara konsisten mereka wujudkan. Dalam hal inilah bangsa Indonesia harus belajar. Konsistensi terutama dalam hal kebijakan belum ada sehingga tiap berganti pemerintahan, berganti pula kebijakan yang diterapkan. Akibatnya seperti yang kita rasakan sekarang, tidak ada kesinambungan antara satu kebijakan dengan kebijakan sebelumnya.

Selain Boenjamin, beberapa orang pembicara hadir di panggung mewakili setiap unsur dalam ABG (Academy, Business, Government). Diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Avanti Fontana ini dimaksudkan sebagai ajang curhat dari berbagai komponen yang terlibat dalam inovasi bangsa. Kalangan akademisi diwakili oleh Boenjamin, pebisnis oleh Suryatin Setiawan, dan pemerintah oleh  Dr. Ir. Aswin S. S. M. Sc. dari Kemenkominfo dan Edy Putra Irawady dari Kemenko Perekonomian.

Lebih lanjut, Boenjamin juga mengajak kepedulian semua pihak untuk lebih mencurahkan dana dalam penelitian dan pengembangan, jika memang ingin menjadi sebuah bangsa yang maju. Alokasi dana penelitian di Indonesia menurutnya masih amat rendah (sekitar US $ 100 juta atau hanya 0,12% dari GDP). Ini sebuah tamparan keras saat dibandingkan dengan AS yang membelanjakan 400 miliar dollar untuk R and D (research and development). Persentase dana litbang Indonesia juga kalah dibandingkan Jepang, Jerman, Korsel, bahkan India yang notabene juga masih negara berkembang. (*Akhlis)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/berita/berita-ce/11577-mengurai-peliknya-penghambat-kemajuan-inovasi-bangsa.html